Menjaga Tradisi Lewat Tangan Perajin

Penulis: Hestia Ramadhani
Senin, 31 Agustus 2026 | 19:11:00 WIB

Pernahkah kamu membayangkan sepinya tangan-tangan terampil yang selama ini menenun kain, membatik, atau menjahit? Thresia Mareta, sosok di balik LAKON, tidak hanya memikirkan itu, tetapi juga bertindak nyata. Baginya, melestarikan budaya bukan sekadar menyimpan kain atau produk jadi, melainkan menjaga agar tangan-tangan perajin tetap berkarya.

Lebih dari Sekadar Melestarikan Budaya

Thresia melihat persoalan yang lebih dalam dari sekadar regenerasi. Banyak perajin batik dan penjahit yang kehilangan peminat karena pendapatan yang tak layak. Wajar jika generasi muda lebih memilih bekerja di pabrik dengan penghasilan pasti daripada mewarisi keterampilan orang tua yang hidupnya pas-pasan. Kondisi ini memutus rantai pewarisan keterampilan tradisional.

"Untuk melestarikan budaya, kita bukan menyimpan kainnya, tapi yang perlu dilestarikan adalah tangannya. Keterampilan itu enggak boleh hilang," ujar Thresia. Ia meyakini bahwa jika perajin bisa hidup sejahtera dari pekerjaannya, anak-anak mereka akan bangga dan tertarik mengikuti jejak orang tua.

Teras LAKON: Laboratorium Keterampilan

Berangkat dari keprihatinan itu, Thresia membangun Teras LAKON sebagai laboratorium pengetahuan. Di sini, keterampilan tradisional diarsipkan, dipelajari, dan diajarkan kembali kepada para perajin. Proses ini tidak hanya menjaga keterampilan tetap hidup, tetapi juga mengembangkan kemampuan perajin agar hasilnya bernilai ekonomi tinggi.

Hasil karya perajin kemudian diolah menjadi produk fesyen LAKON yang dijual di LAKON Store. Dengan demikian, perajin bukan sekadar pekerja, melainkan bagian dari ekosistem yang menghargai karya mereka. Rasa bangga pun tumbuh ketika mereka melihat karya sendiri dihargai dan memberi penghasilan lebih baik.

Menuju Fesyen Berkelanjutan

Bagi Thresia, keberlanjutan fesyen tidak hanya soal bahan ramah lingkungan, tetapi juga proses produksinya. LAKON menerapkan pemotongan kain yang efisien untuk mengurangi limbah dan sumber daya. Sisa produksi pun diolah kembali menjadi produk bernilai.

"Semakin sedikit bahan yang terbuang, semakin sedikit pula listrik dan sumber daya lain yang terpakai," jelasnya. LAKON juga menawarkan layanan perbaikan dan modifikasi pakaian agar konsumen bisa memperpanjang umur pakaian mereka.

Ruang Kreativitas untuk Generasi Muda

Thresia juga peduli pada ruang berekspresi bagi kreator muda. Sebagai Advisor Jakarta Fashion Festival (JF3), ia mendorong terciptanya panggung yang dinamis setiap tahun. Menurutnya, anak muda sekarang lebih eksploratif dalam fesyen, tapi butuh wadah untuk menampilkan karya.

Dedikasi Thresia diakui hingga ke Prancis. Pada 2025, ia menerima gelar Knight of the Ordre des Arts et des Lettres dari Kementerian Kebudayaan Prancis. Penghargaan ini mengukuhkan perannya dalam mempromosikan warisan budaya Indonesia melalui fesyen ke kancah internasional.

Kisah Thresia mengajarkan bahwa menjaga tradisi bukan berarti menolak modernitas. Justru dengan ekosistem yang tepat, kita bisa memastikan tangan-tangan perajin tetap berkarya dan budaya kita hidup selamanya.

Reporter: Hestia Ramadhani